Seragam kelas

Wanita itu keluar. Dia tepat dibelakangku, tepat keluar dari pintu saat aku beberapa langkah di depannya.
“Ada…Ada….tunggu sebentar” ucap wanita itu.
Wanita itu, wanita dengan gamis dan jilbab lebar itu adalah dosenku. Dosen kemahasiswaaan. Dosen yang paling akrab dan paling banyak tahu tentang mahasiswanya. Dosen yang lebih mengerti mahasiswa dibandingkan dosen lain pada kampus ini. Bagiku dia dosen sekaligus kakak. Sekaligus guru, sekaligus ibu yang amat menyenyangkan dan baik hati. Dosen yang mungkin senafas dengan apa yang aku fahami dari mas Emer. Yah, dosen itu sekarang adalah sosok pengganti mas Emer yang telah pergi.
“Ada apa bu? Tanyaku.” Sembari berjalan menuju kearah beliau.
“Kenapa nggak pake sragam kelas hari ini.” Tanyanya
“ Saya masih belum punya alasan bu,” ucapku. Setengah berbisik.
Lorong ruang dalam kampus nampak cukup lengang, meski ada beberapa mahasiswa yang hilir mudik di jalan antara dua ruang itu. Kami berada disana, yah berada dalam lorong itu, lorong aneh.
“Lha kenapa, to? Kok nggak mau pake seragam?” tanyanya kembali sembari menoleh ke kanan kiri.
Aku semakin tak mengerti. Aha, atau jangan-jangan karena didalam kelas tadi aku Cuma klentrak-klentruk? Ah, itu bukan alasan kenapa aku diintrogasi oleh dosen ini. Oh, seragam kelas. Aku hari ini memang tengah tidak menggunakannya. Jelas. Ini adalah most trouble maker yang memempel pada tubuhku. Ah, kenapa dengan dosen ini? kenapa? Kenapa? Kenapa beliau menanyaiku dengan pertanyaan-pertanyaan itu.
Ya, bu. Ya, aku salah karena tidak mengenakan seragam. Memang itu salahku. Tapi jelas tergambar bagaimana alasan yang tak aku ungkapkan kepada beliau. Ya, alasan berupa kejadian kongkrit yang tak aku ungkapkan. Ya, aku memang belum membayar uang seragam itu. Namun bendahara kelas yang baik hati sudah memberikan seragam itu padaku dua minggu lalu. Dengan senang hati dia memberikannya padaku.
“Berapa nih?” tanyaku pada bendahara kelas.
“Tujuh puluh ribu, tapi kena diskon dari kas kelas, 5000 perak.” Jawabnya” Jadi kamu tinggal mbayar sisanya.”
Aku hanya menggaruk kepala, sembari cengas-cenges menatap bendahara itu. Pikirku mana mungkin aku dengan cepat mendapat uang sebesar itu, upah jaga warung memang bisa diandalkan, tapi itu baru dapat diambil setelah tanggal 1 tiap bulannya.
“ Besok ya?” ucapku meminta keringanan.
“Iya deh, aku tahu kok” jawabnya
Hal yang sial. Sebuah beban pikiran kembali menumpuk dibawah tengkorak dan sedikit diatas otakku. Ngawang-awang. Nggak pede saja rasanya mengenakan seragam itu. Seragam seharga nominal kecil bagi kaum golongan atas dikelasku. Tapi begitu besar harganya dimataku. Wuih, andai aku memakainya, bakal menjadi bahan ejekan oleh kaum borjuis itu. Pasti, pasti dan pasti, manatah mungkin bisa seorang Ada Irsyad Hakim hendak mengenakan seragam semewah itu. Untuk makan saja dia hanya menumpang pada rasa belas kasihan budhenya. Benar-benar anak yang merepotkan aku ini, ucapku dalam hati.
“ Da, ikut ibu ke kantor” ucap wanita bergamis itu.
Segera saja aku mengikutinya melangkahkan kaki menuju kantor dosen. Diruang itu tak ada satu ekor manusia yang tersisa. Hanya meja, kursi serta beberapa tumpuk buku yang tersusun rapi diatas meja. Sepi, seperti hembusan nafas yang kau hembuskan kala pagi menghampiri, begitu lengang tetapi berat.
“ Sudah, sekarang katakanlah alasanmu pada ibu. Kenapa hari ini nggak pake seragam lagi?”
Aku menggelengkan kepala, “Saya benar-benar tak ada alasan bu” kembali aku ucapkan kata kata itu lagi dihadapan beliau.
Wanita bergamis itu merogoh sakunya, tak pernah berfikir aku tentang hal itu. Beliau mengeluarkan lembaran kertas berwarna biru. Nominal sangat fantastis bagiku. Bagi seorang Ada Irsyad Hakim. Bagi seorang mahasiwa yang menjadi penjaga warung di sore harinya. Dia menjulurkan itu kepadaku.
“Terimalah” Ucapnya disertai senyum penuh keseriusan.
BOOM, pikiranku kalap. Terbang kemana-mana, termasuk mengingat saat simbah memberiku duapuluh ribu saat aku masuk Kuliah. Pemberian Dua puluh ribu pertamaku, sekaligus yang terakhir dari simbah. Kejadian itu terulang kembali.
Kala itu simbah main ke rumah. Dengan tenaga rentanya beliau sempatkan main ke rumah. Yah, benar, bukan rumahku, tepatnya rumah kepemilikan penuh dan utuh oleh budhe. Dia mencariku, menjulurkan dua puluh ribu itu, memaksaku menerimanya.
“ Dinggo sangu le. Simbah raiso ngenehi akeh, sithik eding muga iso nambah lehmu tuku es lan jajanmu raketan munk sithik-sithik (buat uang saku nak, simbah tidak dapat memberi banyak. Sedikit-sedikit semoga bisa menambah uang buat belie s dan jajanmu, ya meski hanya sedikit)”
Geblek, dungu, tolol. Aku memaki diriku. Dihadapan dosen itu kenapa aku jadi mbrambangi seperti ini. mataku kenapa jadi berat? Pun dengan nafasku. Nampaknya aku memang sulit bersandiwara didepan dosen ini.
“Terimalah ini,” bujuk dosen itu.
“Tidak bu, tidak” ucapku tegas, walau dengan suara yang lembek.
Dosen itu bergeming. “terima saja, buat jajan kamu” ucapnya.
Mataku semakin berat. Semakin sulit menyembunyikan apa yang terasa dalam tubuhku. Andaikan aku adalah bom aku pasti meledak saat itu. Meledak dengan sangat keras dan tak menyisakan keping, melainkan hancur menjadi partikel-partikel kecil yang beterbangan diudara lalu hilang seketika. Alasannya terkait tentang ingatanku pada simbah, sehari setelah simbah memberiku uang itu, keesokan paginya ia pun tiada. Sedih rasanya. Hal itulah yang membuatku ingin meledak. Meledak sekeras-kerasnya, namun aku masih terbungkus kulit. Ledakan manusia mungkin berupa muka merah padam atau lelehan air mata yang mengalir. Semenjak itu aku pun bertekad tak akan meminta atau menerima sumbangan yang diberikan secara Cuma-Cuma padaku. Aku hanya ingin mendedakasi sikap simbah yang luar biasa. Dibalik kerentaannya dia ternyata masih memiliki sikap memberi, sikap hendak mengembangkan senyuman orang lain dibalik keterbatasan yang beliau miliki. Maka aku ingin menirunya. Aku tak ingin menerima sesuatu tanpa ada keringat sebelum mendapatkannya.
“Tidak bu…tidak” ucapku.
“Eh jangan menolak rejeki, dosa lho.!!” Bujuknya agar aku mau menerimanya.
“Tidak bu, tidak.” Ucapku.
Bu dosen itu menjulurkan tangannya hendak meraih saku bajuku. Aku menghindar. Tidak seperti ini bu. Tidak.
“Tidak bu, terimakasih.” Jawabku sembari memutar badan lalu segera beranjak pergi menjauhinya.
Aku berlari menjauhi beliau. Lari, menuruni anak tangga. Lari, menjahi kerumunan orang agar mereka tak mengetahui apa yang aku rasakan. Rasa berat menerima bantuan orang lain yang berusaha membantuku mengatasi masalah sragam kelas dibalik tempurung kepalaku.
Maaf bu, maaf, ucapku dalam hati.
—-jogjakarta 7 hari setelahnya:—-
“ Hey ternyata baju ini berwarna krem, bukan kuning” ucapku pada teman disebelahku.
“Ya, sesuai dengan warna kulitmu nampaknya” jawabnya
“hahahahahaha” kami berkelakar bersama.

TAMAT

 

dipost-kan juga di:

http://yitnoblog.blogspot.com/2010/12/seragam-kelas.html

Kill My Mystery

Kill My mystery

Aku berhasil membunuhnya. Dua orang dalam duapuluh menit. Dua orang dalam satu tempat. Dua musuh dalam duapuluh menit. Yang jelas duapuluh menit ini amat berarti. Duapuluh menit yang menegangkan, yang nantinya akan merubah waktu-waktuku mendatang menjadi lebih cerah, meski aku tahu kecerahan itu harus dibayar secara mahal. Kecerahan disini bagiku mungkin adalah masa suram bagi banyak orang. Kecerahan dalam gelapnya ruang prodeo.

Segera saja kubersihkan darah yang masih menempel pada pisau dapurku. Bekasnya masih tersisa beberapa, sehingga harus aku cuci dan memakan beberapa waktu yang ada. Lantas, aku segera pergi. Meninggalkan lokasi. Tatapan orang nampak tak mengenakkan hati. Meski mereka tak menyaksikan pembunuhan itu, mereka seperti mencium kelakuan yang aku perbuat tadi. Pandangan mereka dingin. Berubah picik putih seperti salju yang turun lalu tertimbun berjibun diatas permukaan tanah. Maka, segera. Langkahku kian cepat. Kian santer.

Tanpa aku sadari langkahku berubah menjadi lelarian kecil. Ini nampak seperti titik pada lembaran HVS kosong. Orang-orang menatapku. Aku merasakannya. Beberapa diantara mereka malah mentertawakanku. Namun tak jarang mereka berujar: “Cara penghangatan yang bagus, Nak.” Dalam hati aku hanya tersenyum. Ini cara yang hangat untuk menyambut cerahnya masa depanku. Putih. Bersinar. Berkilau. Semuanya akan indah pikirku. Mungkin aku akan menjadi terpidana yang paling bahagia didunia ini. biarlah apapun yang mereka pikirkan. Perbuatan ini menyegarkanku.

Nampak jelas jalanan lengang. Hanya beberapa mobil yang melaju. Sisanya dibiarkan teronggok mati seperti dua kawanku tadi. Mereka mungkin tak akan menikmati dinginnya salju kala musim ini datang. Karena mereka beku. Pun dengan apa yang telah mereka lakukan. Membekukan seorang bocah asia sepertiku.segera setelah itu aku menyeberang jalan ditemani nafas yang terengah-engah. Udara dingin nampaknya membuat pendek alur pernafasan. Maklum,ukuran paru-paru orang asia memang jauh lebih kecil. Nampak kesulitan, melewati terjangan hujan salju yang dahsyat seperti ini. untungnya mataku segera menemukan tempat penghangat badan diseberang jalan. Sebuah warung Ramen khas Jepang

Nampak sulit menemukan warung seperti ini. terlebih ini Amerika. Tanpa banyak simpulan, aku segera masuk. Terpampang ruangan yang luas, tertata beberapa meja beserta kursinya yang panjang dan peralatan makan mie seperti sumpit, manguk kecil tak luput sambal dan kecap. Hah, ini lebih mirip warung mie ayam milik Koh Amen di Negaraku. Tak apalah, akupun telah rindu suasana seperti ini.Sedikit ini, semoga dapat mengobati kerinduan pada negaraku.

Segera aku mendekat kepada penjual mie itu.

“Can I eat some heatfood today, Sir?” tanyaku.

“ tak usah pakai bahasa Inggir segala, sedikit-sedikit aku sudah mulai lancar berbicara bahasa Indonesia” jawab pria bermata sipit sembari memberiku semangkuk Ramen.

Aku terperangah kaget juga mendengarnya. Oh, mungkin ia mengenaliku dari emblem bendera yang ada di saku kiriku. Aku lantas tersenyum.

Meja didepanku menjadi ajang pelepas lelah. Nampak makin ramai saja warung ini. tak nampak wajah-wajah asia, yang ada justru raut khas arek-arek Amerika yang berdatangan. Pada dasarnya bukan keramaianlah yang mengalihkan perhatianku. Fokusku tertuju pada seorang pria jelek yang duduk disudut ruangan. Ia seperti merefleksikan keadaanku dalam kelas. Selalu tersudut dan menjadi orang jelek. Apakah salah jika dinegara ini aku berambut hitam. Berkulit coklat sawo matang, dan berbolamata warna coklat. Kesukaanku makan nasi dan pakaian faforitku adalah batik. Orang-orang disini nampaknya terlalu sensitif. Dua temanku akhirnya menghasut kawan-kawan yang lain. Hingga satu persatu mereka menjauhiku. Dua orang yang kini tergolek tanpa nyawa itu telah membunuhku jauh sebelum pisauku membunuhnya. Mereka membunuh karakterku. Membuatku terasing tanpa kawan. Semua menjauhiku. Dan mereka sukses. Aku sendiri. Mereka menjauhiku. Katanya aku si sial yang membuat segala kejadian menjadi kacau. Membuatku sendiri. Bebal batu yang sangat kaku.

Ah, dan segera emosiku membuncah lalu tak tertahan pada empatpuluh menit yang lalu. Setelah beberapa bulan aku terkatung-katung muncul lintasan hati yang menyuruh tanganku menghampiri pisau, berlari lalu menghujamkannya pada dua temanku yang sangat bahagia. Seperti sudah kehabisan cahaya rupanya hati ini. yang ada hanya niat hitam untuk membalas dendam. Dan itu sudah tersampaikan beberapa waktu lalu.

Tak lama setelah pikiranku melayang-layang, tuan-tuan terhormat bernama polisi segera masuk dan menghampiri. Aku pikir inilah waktu yang tepat untuk menyambut hari-hari cerahku. Aku akan berujar pada mereka.

“Sir…” ucapku

Mereka segera menghampiri aku.

“Aku telah membunuh dua orang temanku disebuah gedung beberapa blok dari sini.” Jelasku.

Segera, mereka saling berpandangan. Lalu terkekeh dan meledaklah tawanya.

“ini adalah lelucon paling lucu untuk hari ini.” ujar salah seorang dari mereka.

“apa kau pikir bocah ini bisa membunuh?

“Aku pikir ia masih suka minum susu dan dinyanyikan lagu nina bobo pada malam hari.” Jawab pria yang lain.

Hahaha. Tawa mereka.

“ayo ikut aku” ucapku agak ketus.

Aku segera mengajak mereka menuju tempat pembunuhan. Aku hanya ingin mereka tahu bahwa orang asia tak pernah kalah. Orang asia mampu mengalahkan arek-arek Amerika tanpa senapan. Cukup dengan pisau saja. Akupun membuktikan bahwa badan kecil mampu menumbangkan badan yang lebih besar.

Setelah sampai, aku membuka pintu. Astaga, betapa terkejutnya aku. Kemana dua mayat yang tergeletak tadi?kemana pula bekas darah yang tertinggal? Tanyaku tak habis menghiasi pikiranku.

“nak kamu benar-benar bercanda hari ini.” ucap salah seorang polisi.

 

TAMAT

 

dipost-kan juga di:

http://yitnoblog.blogspot.com/2010/12/kill-my-mystery.html

sengit

pertempuran semalam hanya berisi tawa, bahagia, dan gurauan riang canda

 

getir nan sulit

rasaku berubah pahit, hitam

senikmat kopi robusta

sehangat erat tangan mungil itu menjabat

aku benci hari ini

 

pergilah

dan kehidupan akan berlanjut,

entah dengan carut marut, atau postingan yang njeketut-ketut

 

matilah kau

ku ingin melihatmu pergi ke neraka

kenapa kau

kenapa kau

kenapa tanda tanya

kenapa

ke napa

 

aku masih ada tapi tak berarti……..

 

-bilik 4, menjelang el clasico, 2010-

Selamat jalan

selamat jalan meski kau bukan pahlawan

selamat jalan karena kau ayah dari seorang calon pahlawan dimasa depan

 

selamat jalan

namamu terukir diatas batu nisan

hidup dalam keabadian nan baka

sendiri tanpa apa-apa kecuali dihadapkan pada apa-apa kala di dunia

 

selamat malam

bagi seseorang bermata kantung esok hari suram

bagi kami ini adalah bukti,

bahwa kelak kita akan berujar : SELAMAT JALAN

atau orang lain yang berujar tuk kita : SELAMAT JALAN

 

entahlah,

kisahmu tak seheroik panji-panji dalam buku cerita yang sempat kubaca

tapi kau tetap melukis epik diatas kehidupan

semuanya indah,

tapi kini hanya tersisa kata selamat jalan pada akhirnya

 

selamat jalan,

esok kita kan jumpa

 

-ndudukan 27 november 2010-

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!